Kamis, 02 Mei 2024

[Equilibrium] Secangkir Kopi

     "Ini enak, teh.", katamu sambil memanggilku. Kamu memamerkan secangkir kopi buatanmu pagi itu. Americano dengan sedikit gula semut, katamu. Seperti biasa, hampir setiap pagi, kita bertemu di salah satu kedai dekat hutan. Kadang kamu berkunjung sambil membawa hardcase yang berisi gitar akustik lalu memainkannya sambil diiringi suara tongeret di pagi hari. Atau aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil diiringi petikan gitarmu yang khas. Atau membawa sebuah bass, sambil merekamnya untuk kamu jadikan konten sosial mediamu, sambil aku membuka laptop dan bekerja seharian. Dan seperti biasa, aku akan selalu menyeruput kopi dari cangkirmu dan kubilang, "Iya, enak yah!". Kita akan menghabiskan kopi dalam sebuah cangkir, berdua. 

    Pagi ini, aku teringat kopi buatanmu itu. Aku coba nyalakan mesin kopi. Kusimpan sebuah gelas kecil sebagai wadah untuk air hasil flushing. Lalu aku menggiling dua scoop biji kopi ke dalam grinder. Setelah halus, aku pindahkan pada porta dan memasangnya pada mesin kopi yang sudah mulai panas. Aku menerka berapa gramasi gula yang biasa kamu buat itu. Aku pilih sebuah bilangan lalu aku timbang. Cangkir merah yang berisi gula itu, lalu aku pindahkan pada mesin yang sudah siap. Bulir kopi espresso pun mengalir dari lubang porta. Aku lalu menambahkan sedikit air hangat ke dalam cangkir tersebut. Aku mulai menyeruputnya, "Enak dan harum sekali!" pikirku. Aku teringat ekspresimu kala kamu mencium wangi kopi. Senyum merekah seperti bocah kecil yang menemukan mainannya. Aku tersenyum. 

    Kadang, Tuhan mengalirkan rasa rindu hanya dari secangkir kopi. Sambil mengingatmu, aku teringat pula kebiasaan bapak saat mengaduk kopi. Bunyi sendok yang beradu dengan gelas dengan satu gerakan khas hingga menghasilkan suara kocekan yang khas pula. Ah, kadang pagi hari sering terisi dengan rasa rindu. Terima kasih pagi. Terima kasih rindu. Setidaknya itu mengisi spiritku di pagi hari dengan beberapa senyuman simpul kenangan. Oke, saatnya kita bertemu realita untuk bekerja kembali. 

#fiksimini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Equilibrium] Exhibit 181124

Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...