Jumat, 23 Maret 2018
Nafas baru itu bernama "Ayaka". (part1)
Jum'at siang kala itu adalah jadwal rutin saya untuk cek kandungan. Mengingat kandungan sudah lebih dari 40 minggu, check up menjadi lebih intens pada minggu-minggu terakhir. Qadarullah, saat itu, dokter langganan cuti keluar kota karena ada seminar. Dan, saya akhirnya memilih dokter baru untuk mengecek si jabang bayi. .
.
"Harus dipaksa keluar ini bayinya." ujar si dokter baru. "Ya kalau bisa normal, dibantu sama induksi. Kalo gabisa, ya terpaksa caesar." Lalu, saya langsung diarahkan untuk melakukan CTG selama setengah jam. Yakni, pemeriksaan denyut jantung bayi dengan memakai alat rekam. Apakah kondisinya sehat atau lemah. Apakah memungkinkan normal atau tidak. Mertua yang mengantar saat itu, lumayan agak panik, dan langsung menyuruh saya untuk menelepon suami (alm) untuk segera pulang. Maklum, kala itu kami LDM. Sejak umur kandungan 9 bulan (36 minggu) kami tinggal beda kota, dengan jarak 2-3 jam perjalanan. .
.
"Induksinya nanti aja ya, Dok, habis suami saya pulang. Besok juga gapapa kan?" itulah keputusan saya. "Iya, tapi hasil CTG ini dan surat rujukan induksi cuma berlaku 3 hari ya, saya ga jamin kedepannya kondisinya gimana." Dokter menjelaskan resiko jika melahirkan diatas 40 minggu.
.
Qadarullah, setelah suami sampai di rumah sore harinya, kontraksi mulai terasa. "Wah si bayi gamau dipaksa induksi ya," batin saya. Malam harinya, saya masuk UGD. "Sudah pembukaan 1, Bu. Dilihat dari CTG-nya (sudah tinggi his dan jarak kontraksinya), kemungkinan bayi akan lahir pagi atau siang harinya." kata suster/bidan jaga. Malam itu juga, saya masuk ruang inap untuk observasi ditemani suami.
.
"Ibu lahiran mau dengan dokter siapa? Dokter X (langganan) baru beres cuti sabtu sore. Kalau sebelum itu sudah mau lahir, sama dokter Y (yang tadi siang periksa) gapapa, Bu?" Walau kurang sreg, saya akhirnya pasrah sama pilihan yang ada. "Oke, suster."
.
Esoknya, penantian kelahiran bayi masih tertunda. Walaupun kontraksi terus terasa, tapi pembukaan stuck di 2. "Wah, kayaknya bayinya nungguin dokter X (langganan) ya!" saya cuma bisa senyum.
Ditulis di:
Bandung, 12 Januari 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
[Equilibrium] Exhibit 181124
Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...
-
. Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sa...
-
Lama sudah aku tak singgah di kota ini. Satu bulan? Dua bulan? Mungkin lebih. Aku tak begitu mengingat soal waktunya. Yang aku ingat...
-
28/06/2023 14:55 WIB Ini sudah periode yang kesekian. Kesekian kalinya pula, saya masih merasakan hal yang sama, berulang padamu. Keputusas...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar