Aku membuka laptopku di atas meja kayu. Sambil menimbang-nimbang musik apa yang akan aku pilih untuk mengiringiku saat membuat kopi hari ini. Aku sambungkan bluetooth speaker pada laptop, menyetel volume sedang. Suara tongeret terdengar cukup nyaring pagi ini. Semburat cahaya matahari, berusaha menghangatkan bangunan rumah bercat putih biru ini. Jemariku otomatis bergerak mengikuti hentakan musik yang terdengar. "ini hari kesekian..." batinku. Terdengar suara nyaring kendaraan roda dua dari kejauhan. Kepalaku otomatis menoleh untuk menelisik sumber suara tersebut. "oh, bukan dia." Tanpa sadar raga ini mendamba kedatangannya, secara tiba-tiba. Seperti yang biasa kami lakukan. Bertemu tanpa perlu memberi kabar. Menyerahkan koneksi pada qadr-Nya. Koneksi pagi hari yang dirindukan. Kata-kata yang tertahan di tenggorokan. Aku teringat sebuah puisi yang dibuat oleh Ra tentang kerinduan. Oh, beginikah rasanya, Ra? Dan, saatnya aku telan segala rasa rindu ini dalam segala ketidakmungkinan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
[Equilibrium] Exhibit 181124
Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...
-
. Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sa...
-
Lama sudah aku tak singgah di kota ini. Satu bulan? Dua bulan? Mungkin lebih. Aku tak begitu mengingat soal waktunya. Yang aku ingat...
-
28/06/2023 14:55 WIB Ini sudah periode yang kesekian. Kesekian kalinya pula, saya masih merasakan hal yang sama, berulang padamu. Keputusas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar