Mulai bulan Januari kemarin, saya mulai aktif lagi di dunia persosialisasian alias bertemu dan berteman dengan orang baru, setelah lebih dari setahun vacuum dan mendekam diri. Momen tersebut didapat karena saya mulai berkuliah lagi. Yeay!
.
Awalnya, saya perlu waktu untuk beradaptasi lagi dalam hal berkomunikasi dengan orang baru. Maklum, vacuum-nya setahun, tapi rasanya seperti sepuluh tahun. Grogi, kurang percaya diri, dan kebingungan dalam merespon obrolan sehari-hari sehingga mencoba mengetuk pintu masa lalu untuk menemukan diri, yang ceria, easy going, dan mudah bergaul. Ternyata setahun, lumayan bikin terdiaspora juga.
.
Lain dulu lain sekarang. Ikut kuliah saat umur kepala tiga adalah, lebih fokus, lebih serius, lebih ambisius. Beda banget saat jaman dulu yang biasa menggelandang kesana kemari. Apakah dengan kepala tiga lantas membuat pemikiran menjadi serius dan perkuliahan menjadi lebih menggiurkan? Entahlah.
.
I put a lot of efforts to accomplished all my duties. Mengerjakan semua tugas kuliah, kerja kelompok, full presensi, ikut komunitas, hadir seminar, pekerjaan rumah tangga, dan yang utama adalah menjadi IBU. Tapi ternyata, tektok-nya gak semudah dibayangkan. Apalagi, sifat kuliah S1 dan S2 yang cukup timpang. Sekarang, semua berkutat dengan buku tebal, tekstual, dan analisa. Lain jaman dulu, yang cuma mengandalkan otak kanan, sense, dan tangan yang lincah. Culture Shock!
.
Kekuatan multitasking dan manajemen waktu adalah koentji. Bangun tidur, ada to do list rumah tangga yang mesti dikerjakan sebelum berangkat kuliah. Sebut saja nyapu, ngepel, beres-beres dan masak untuk orang rumah. Kalo sempet, ya ke pasar, hunting sayuran sambil me time. Lalu disambung dengan quality time sama bayi yang baru bangun, walaupun cuma beberapa menit. Berangkat kuliah, dan mencoba menuntaskan segalanya di kampus. Jadi, sesampai di rumah, gak sibuk sendiri ngerjain urusan kampus, karena sering terdistraksi dan gak fokus akibat tuntutan perhatian dari Nak Bayi.
.
Segalanya diusahakan berjalan dengan sinkron dan maksimal. Mengerjakan tugas, sambil nyusui anak, biasa. Mengerjakan tugas dengan remote saat anak di opname di rumah sakit seminggu, pernah. Bawa anak saat kuliah karena harus sambil observasi si anak, pernah. Kita berjuang sama-sama. Saat banyak yang mesti dikerjakan, waktu jadi lebih terasa berharga.
.
Hingga suatu hari, hasil kerja keras diumumkan. Ada satu mata kuliah yang nilainya bikin patah hati. Nangis karena nilai kok rasanya lebay ya. Tapi itulah, ujian hidup ada-ada aja. Kita kadang gak tau sisi mana yang bikin patah hati maksimal, walaupun tampak sepele di mata orang lain. Itu karena, orang lain gak tau sejauh apa kerja keras dan perasaan kita dalam melakukan suatu hal. Yang terlihat cuma data dengan angka. Dan itu berlaku di sisi kehidupan yang lain. Uhuk!
.
Apa yang harus dilakukan? L-E-G-O-W-O. Mencerna lagi, dan memahami, bahwa segala hal, kadang gak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada kerikil dan sandungan yang dihadapi, biar apa? Biar kita lebih mawas diri. Gak terbuai dengan ambisi pribadi, yang mungkin sudah menggerogoti diri sendiri.
.
"Ini keajaiban alam. Aku mempercayainya!" - ost. Sailormoon -
"Ini keajaiban alam. Aku mempercayainya!" - ost. Sailormoon -
Bandung, Juni 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar