Jumat, 20 April 2018

Iya, Ibu harus belajar.

Dulu, saat saya mau menikah, Ibu berkata, kenapa dari dulu ibu cukup strick pada saya dan pilihan pasangan saya. Syarat diantaranya adalah : Bageur (baik), Bener (dalam hal agama), Pinter. Harus sepaket. "Karena, suatu saat ibu akan mati. Dan ibu harus cukup yakin dan tenang, kalau nanti, kamu akan baik-baik saja tanpa ibu. (karena ibu, gimana pun kondisinya akan selalu menerima seorang anak)".
.
Akhirnya restu ibu (yang dulunya strick banget) luluh (dengan mudahnya) pada alm suami saya. .
.
Begitulah seorang ibu. Mengikhlaskan saya menikah dengan seorang laki-laki, dengan proses yang alhamdulillah (menurut saya) dimudahkan segalanya oleh Allah SWT. Lalu dua hari setelah menikah, langsung ditinggalkan  beda pulau oleh saya. .
.
Ikhlas.
.
Iya, seorang ibu (menurut saya) diuji keikhlasannya semenjak dia mengandung. Melewati masa 9 bulan dengan banyak rasa. Setelahnya, ada fase melahirkan yang luar biasa juga rasanya. Lalu fase batita, dimana akan ditempeli terus oleh si bayi. Lalu fase balita yang masih harus juga diurusi. Dan jika disadari, suatu hari, si bayi akan bertumbuh menjadi besar. Dan suatu saat akan berjarak. Entah karena kesibukan bekerja, menikah, atau bahkan kematian.
.
Sungguh (harus disadari) bahwa anak itu hanyalah titipan. Bukanlah milik kita. Melainkan dipercayakan serta diamanatkan untuk kita jaga dan urus sesuai dengan ridhoNya. Dan suatu saat akan kembali padaNya. Hanya Allah, Maha pemilik takdir yang tahu, kemana ranting takdir itu bergerak. .
.
Ikhlas.
.
Iya.. suatu hari.. ibu juga harus belajar ikhlas ya, Nak. .
.
(dari sekarang, harus belajar)
.
Bismillaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Equilibrium] Exhibit 181124

Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...