Kamis, 21 November 2024
[Equilibrium] Exhibit 181124
Kamis, 26 September 2024
[Equilibrium] Mengurai balasan
"Aku sedang dekat dengan yang lain, dan memulai untuk merencanakan sesuatu ke depan."
Pagi itu aku membuka balasan surel mu. Diantara sekian banyak kata, ia tidak pernah mengurai bagaimana perasaanya padaku. Padahal baru beberapa minggu lalu, ia berkata sayang dan ingin menikahiku. Rasanya kadang kita jarang berbicara dengan bahasa yang sama. Jika cinta adalah bahasa dunia. Bagaimana kita bisa memahami jika tiada kata dan upaya.
Aku masih mencintaimu.
Kamis, 19 September 2024
[Equilbrium] Meresapi"nya"
Kamis, 15 Agustus 2024
[Equilibrium] Aku, masih...
Hingga sekarang.
Saat bangun karena mimpi, atau saat aku sedang menatap layar komputerku.
Jumat, 09 Agustus 2024
[Equilibrium] Au Revoir
Kamis, 01 Agustus 2024
Terlalu Berisik
12 Charoen Nakhon 10 Alley, Khlong San, Bangkok 10600.
Kamis, 25 Juli 2024
[Equilibrium] Hai!
Hai!
Baru saja aku lihat sosial mediamu, kamu sedang menebarkan sinyal pencarianmu untuk orang-orang baru. Baru dua minggu berlalu seka kamu mememutuskan untuk menjadikanku sebagai masa lalu. Lima tahun, kebersamaan, menjadi asing satu sama lain secara tiba-tiba.
Beberapa kali aku mimpi tentang mu. Kadang aku marah, bahkan aku sampai menangis lalu terbangun dengan penuh air mata. seringkali aku berdoa, untuk dihilangkan segala rasa tentang kamu. agar hilang, agar lupa, agar tidak terluka. Karena ini cukup memberi derita. Tanpa tatap muka kamu tuntaskan segala.
Kamu, aku, asing.
Jumat, 19 Juli 2024
Lintas Kota
"Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya di awal?"
Pertanyaan itu ternyata terbantahkan dengan cepat. Kita sudah terkoneksi jauh dari sebelumnya. Saat aku dan kamu, terhubung dengan sebuah surat elektronik yang membawa kita dalam sebuah ingatan lampau. Ah, ya. Kita sudah pernah terkoneksi.
"Lalu, apa makna dari koneksi kita saat ini?"
--- jawabanya masih di ujung langit, sayang.
Kamis, 16 Mei 2024
[Equlibrium] Suara dari Kejauhan
Aku membuka laptopku di atas meja kayu. Sambil menimbang-nimbang musik apa yang akan aku pilih untuk mengiringiku saat membuat kopi hari ini. Aku sambungkan bluetooth speaker pada laptop, menyetel volume sedang. Suara tongeret terdengar cukup nyaring pagi ini. Semburat cahaya matahari, berusaha menghangatkan bangunan rumah bercat putih biru ini. Jemariku otomatis bergerak mengikuti hentakan musik yang terdengar. "ini hari kesekian..." batinku. Terdengar suara nyaring kendaraan roda dua dari kejauhan. Kepalaku otomatis menoleh untuk menelisik sumber suara tersebut. "oh, bukan dia." Tanpa sadar raga ini mendamba kedatangannya, secara tiba-tiba. Seperti yang biasa kami lakukan. Bertemu tanpa perlu memberi kabar. Menyerahkan koneksi pada qadr-Nya. Koneksi pagi hari yang dirindukan. Kata-kata yang tertahan di tenggorokan. Aku teringat sebuah puisi yang dibuat oleh Ra tentang kerinduan. Oh, beginikah rasanya, Ra? Dan, saatnya aku telan segala rasa rindu ini dalam segala ketidakmungkinan.
Kamis, 09 Mei 2024
[Equlibrium] from Venus and Mars
Kalau di bukunya John Gray itu dikasih judul "Men Are from Mars, Women Are from Venus", mungkin jarak antara saya sama kamu itu kayak planet Jupiter sama planet Venus. Kamu yang Jupiter, saya yang Venus. Gak mau sebutin matahari sih, soalnya kayaknya matahari itu gak mungkin bisa disinggahi. Bicara soal ketidakmungkinan, saya lagi belajar mengenai ini. Kadang kita suka ngeset dalam pikiran kita, bahwa sesuatu hal ini "ga mungkin". Saya kadang sering mikir gitu. Sering menanamkan sesuatu hal ini "ga mungkin" padahal, berkali-kali juga pikiran itu sering dipatahkan dengan menjadi mungkin. Dan saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa akan "mungkin-mungkin aja".
Balik lagi soal jarak Jupiter dan Venus. Jarak Bumi sama Venus itu kurang lebih 257 juta km. Kalau Bumi sama Jupiter itu 714 juta km. Jadi kalau digabung jadi berapa hayo? Intinya sih, dari awal, saya sadar bahwa jarak saya dan kamu itu jauh banget. Jarak dalam artian gap kita, perbedaan kita, bukan lokasi ya. Beda bahasa, beda kesukaan, beda cara berpikir, beda sudut pandang, beda dalam memproses sesuatu yang akhirnya butuh energi dan waktu yang cukup banyak untuk memahami. Kadang bisa sampai menyerah berkali-kali untuk menyampaikan maksud anu. Tapi yang jadi lucu disamping segala gapnya, adalah, bahwa kecenderungan tarik menarik rasa cukuplah kuat. Bolak balik, naik turun, on off, lost and found sampai empat tahun lamanya. Sampai akhirnya pasrah aja, mengikuti aliran takdir. Aduh akang, kumaha iyeu teh, gusti. Bisa gini.
Kamis, 02 Mei 2024
[Equilibrium] Secangkir Kopi
"Ini enak, teh.", katamu sambil memanggilku. Kamu memamerkan secangkir kopi buatanmu pagi itu. Americano dengan sedikit gula semut, katamu. Seperti biasa, hampir setiap pagi, kita bertemu di salah satu kedai dekat hutan. Kadang kamu berkunjung sambil membawa hardcase yang berisi gitar akustik lalu memainkannya sambil diiringi suara tongeret di pagi hari. Atau aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil diiringi petikan gitarmu yang khas. Atau membawa sebuah bass, sambil merekamnya untuk kamu jadikan konten sosial mediamu, sambil aku membuka laptop dan bekerja seharian. Dan seperti biasa, aku akan selalu menyeruput kopi dari cangkirmu dan kubilang, "Iya, enak yah!". Kita akan menghabiskan kopi dalam sebuah cangkir, berdua.
Pagi ini, aku teringat kopi buatanmu itu. Aku coba nyalakan mesin kopi. Kusimpan sebuah gelas kecil sebagai wadah untuk air hasil flushing. Lalu aku menggiling dua scoop biji kopi ke dalam grinder. Setelah halus, aku pindahkan pada porta dan memasangnya pada mesin kopi yang sudah mulai panas. Aku menerka berapa gramasi gula yang biasa kamu buat itu. Aku pilih sebuah bilangan lalu aku timbang. Cangkir merah yang berisi gula itu, lalu aku pindahkan pada mesin yang sudah siap. Bulir kopi espresso pun mengalir dari lubang porta. Aku lalu menambahkan sedikit air hangat ke dalam cangkir tersebut. Aku mulai menyeruputnya, "Enak dan harum sekali!" pikirku. Aku teringat ekspresimu kala kamu mencium wangi kopi. Senyum merekah seperti bocah kecil yang menemukan mainannya. Aku tersenyum.
Kadang, Tuhan mengalirkan rasa rindu hanya dari secangkir kopi. Sambil mengingatmu, aku teringat pula kebiasaan bapak saat mengaduk kopi. Bunyi sendok yang beradu dengan gelas dengan satu gerakan khas hingga menghasilkan suara kocekan yang khas pula. Ah, kadang pagi hari sering terisi dengan rasa rindu. Terima kasih pagi. Terima kasih rindu. Setidaknya itu mengisi spiritku di pagi hari dengan beberapa senyuman simpul kenangan. Oke, saatnya kita bertemu realita untuk bekerja kembali.
#fiksimini
Kamis, 25 April 2024
[Jurnal Ramu] Tepache batch 1
11:43
Hari ini eksperimen bikin minuman fermentasi kulit nanas khas meksiko, namanya tepache. Jadi, tepache ini konon adalah minuman musim panas yang punya banyak khasiat karena kandungan probiotik yang tinggi di dalamnya. Tadi saya beli nanas di Pasar Cihapit. Harganya 15 ribu aja. Samalah harganya kalau beli nanas di Borma.
Bahan-bahan:
- 1 buah nanas matang
- 200 gram gula aren
- 2 sdm gula pasir
- 1 liter air matang (saya bikinnya 1,25 liter biar pas buat 5 botol)
- cengkeh
- kayu manis
- jahe
Selasa, 23 April 2024
[Jurnal Sierra] Kebaikan Stranger
23/04/2024
Cigadung, 19:15 WIB
Masya Allah.
Kadang suka terharu banget sama kebaikan yang didapat dari stranger yang sama sekali ga kenal kita. Dalam sekejap, Allah menggerakan hati manusia. Alhamdulillah wa syukurillah. Allah maha baik. Allah sebaik-baik penolong. Allah satu-satunya harapan.
#momente
Minggu, 21 April 2024
[Jurnal Sierra] 2#
21/04/2024
Cigadung, 18:40 WIB
"Bahwa untuk bangkit tidak serta merta seketika saat sekali kamu jatuh, lalu kamu berdiri dan bisa berjalan lagi. Dibutuhkan untuk berkali-kali berdiri, lalu jatuh lagi, lalu merangkak, lalu tertatih-tatih, lalu berdiri, lalu berlari, lalu jatuh, lalu tertatih lagi dan begitu seterusnya hingga kamu terbiasa dengan kebiasaan tersebut, bahwa jatuh adalah biasa, bahwa tertatih-tatih itu biasa, hingga ketika berjalan lagi, kamu terbiasa siap untuk jatuh lagi untuk kesekian lagi. Dan segala halnya menjadi biasa saja. Begitulah hidup."
[Jurnal Sierra] 1#
28/06/2023
14:55 WIB
Ini sudah periode yang kesekian. Kesekian kalinya pula, saya masih merasakan hal yang sama, berulang padamu. Keputusasaan. Penolakan. Ketidakberbalaskan. Penyelesaian. Dimana perasaan masih sama, sedari dulu.
Kebimbangan. Keraguan. Ketidakpercayaan. Kenapa akhirnya menjadi jebakan.
Pemulihan yang kesekian.
[Equilibrium] Exhibit 181124
Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...
-
. Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sa...
-
Lama sudah aku tak singgah di kota ini. Satu bulan? Dua bulan? Mungkin lebih. Aku tak begitu mengingat soal waktunya. Yang aku ingat...
-
28/06/2023 14:55 WIB Ini sudah periode yang kesekian. Kesekian kalinya pula, saya masih merasakan hal yang sama, berulang padamu. Keputusas...