Kamis, 16 Mei 2024

[Equlibrium] Suara dari Kejauhan

     Aku membuka laptopku di atas meja kayu. Sambil menimbang-nimbang musik apa yang akan aku pilih untuk mengiringiku saat membuat kopi hari ini. Aku sambungkan bluetooth speaker pada laptop, menyetel volume sedang. Suara tongeret terdengar cukup nyaring pagi ini. Semburat cahaya matahari, berusaha menghangatkan bangunan rumah bercat putih biru ini. Jemariku otomatis bergerak mengikuti hentakan musik yang terdengar. "ini hari kesekian..." batinku. Terdengar suara nyaring kendaraan roda dua dari kejauhan. Kepalaku otomatis menoleh untuk menelisik sumber suara tersebut. "oh, bukan dia." Tanpa sadar raga ini mendamba kedatangannya, secara tiba-tiba. Seperti yang biasa kami lakukan. Bertemu tanpa perlu memberi kabar. Menyerahkan koneksi pada qadr-Nya. Koneksi pagi hari yang dirindukan. Kata-kata yang tertahan di tenggorokan. Aku teringat sebuah puisi yang dibuat oleh Ra tentang kerinduan. Oh, beginikah rasanya, Ra? Dan, saatnya aku telan segala rasa rindu ini dalam segala ketidakmungkinan. 

Kamis, 09 Mei 2024

[Equlibrium] from Venus and Mars

        Kalau di bukunya John Gray itu dikasih judul "Men Are from Mars, Women Are from Venus", mungkin jarak antara saya sama kamu itu kayak planet Jupiter sama planet Venus. Kamu yang Jupiter, saya yang Venus. Gak mau sebutin matahari sih, soalnya kayaknya matahari itu gak mungkin bisa disinggahi. Bicara soal ketidakmungkinan, saya lagi belajar mengenai ini. Kadang kita suka ngeset dalam pikiran kita, bahwa sesuatu hal ini "ga mungkin". Saya kadang sering mikir gitu. Sering menanamkan sesuatu hal ini "ga mungkin" padahal, berkali-kali juga pikiran itu sering dipatahkan dengan menjadi mungkin. Dan saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa akan "mungkin-mungkin aja".

        Balik lagi soal jarak Jupiter dan Venus. Jarak Bumi sama Venus itu kurang lebih 257 juta km. Kalau Bumi sama Jupiter itu 714 juta km. Jadi kalau digabung jadi berapa hayo? Intinya sih, dari awal, saya sadar bahwa jarak saya dan kamu itu jauh banget. Jarak dalam artian gap kita, perbedaan kita, bukan lokasi ya. Beda bahasa, beda kesukaan, beda cara berpikir, beda sudut pandang, beda dalam memproses sesuatu yang akhirnya butuh energi dan waktu yang cukup banyak untuk memahami. Kadang bisa sampai menyerah berkali-kali untuk menyampaikan maksud anu. Tapi yang jadi lucu disamping segala gapnya, adalah, bahwa kecenderungan tarik menarik rasa cukuplah kuat. Bolak balik, naik turun, on off, lost and found sampai empat tahun lamanya. Sampai akhirnya pasrah aja, mengikuti aliran takdir. Aduh akang, kumaha iyeu teh, gusti. Bisa gini.

Kamis, 02 Mei 2024

[Equilibrium] Secangkir Kopi

     "Ini enak, teh.", katamu sambil memanggilku. Kamu memamerkan secangkir kopi buatanmu pagi itu. Americano dengan sedikit gula semut, katamu. Seperti biasa, hampir setiap pagi, kita bertemu di salah satu kedai dekat hutan. Kadang kamu berkunjung sambil membawa hardcase yang berisi gitar akustik lalu memainkannya sambil diiringi suara tongeret di pagi hari. Atau aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil diiringi petikan gitarmu yang khas. Atau membawa sebuah bass, sambil merekamnya untuk kamu jadikan konten sosial mediamu, sambil aku membuka laptop dan bekerja seharian. Dan seperti biasa, aku akan selalu menyeruput kopi dari cangkirmu dan kubilang, "Iya, enak yah!". Kita akan menghabiskan kopi dalam sebuah cangkir, berdua. 

    Pagi ini, aku teringat kopi buatanmu itu. Aku coba nyalakan mesin kopi. Kusimpan sebuah gelas kecil sebagai wadah untuk air hasil flushing. Lalu aku menggiling dua scoop biji kopi ke dalam grinder. Setelah halus, aku pindahkan pada porta dan memasangnya pada mesin kopi yang sudah mulai panas. Aku menerka berapa gramasi gula yang biasa kamu buat itu. Aku pilih sebuah bilangan lalu aku timbang. Cangkir merah yang berisi gula itu, lalu aku pindahkan pada mesin yang sudah siap. Bulir kopi espresso pun mengalir dari lubang porta. Aku lalu menambahkan sedikit air hangat ke dalam cangkir tersebut. Aku mulai menyeruputnya, "Enak dan harum sekali!" pikirku. Aku teringat ekspresimu kala kamu mencium wangi kopi. Senyum merekah seperti bocah kecil yang menemukan mainannya. Aku tersenyum. 

    Kadang, Tuhan mengalirkan rasa rindu hanya dari secangkir kopi. Sambil mengingatmu, aku teringat pula kebiasaan bapak saat mengaduk kopi. Bunyi sendok yang beradu dengan gelas dengan satu gerakan khas hingga menghasilkan suara kocekan yang khas pula. Ah, kadang pagi hari sering terisi dengan rasa rindu. Terima kasih pagi. Terima kasih rindu. Setidaknya itu mengisi spiritku di pagi hari dengan beberapa senyuman simpul kenangan. Oke, saatnya kita bertemu realita untuk bekerja kembali. 

#fiksimini

[Equilibrium] Exhibit 181124

Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...