![]() |
Hanya berselang 27 hari setelah kebahagiaan atas nafas baru bernama Ayaka, itu terjadi. Belum kering rasanya luka yang didapat dari proses tersebut, saya dibuat terhempas jauh, tidak menapak bumi. .
.
Qadarullah. Imamku, penentram hatiku, dijemput Sang Pemilik Hidup. Kasih sayangNya terhadap kami, diatas segalanya. Yaa.. Rahmaan.. Yaa.. Rahiim.
.
Sepotong kata maaf, dan kecupan hangat, adalah hal terakhir yang terpatri sebelum ia pergi. Selepas sholat dzuhur, ia pergi menjemput nafkah untuk kami. Pergi yang sebenarnya kembali pada Illahi Rabbi. Yaa Rabb.. sedekat itukah kematian? Baru saja kami bertatap.
.
Hanya berselang 3 jam dari perjumpaan terakhir, kabar itu datang. Kabar yang meruntuhkan pertahanan saya. Kabar yang bukan saya harapkan.
.
Rumah sakit berjarak 3 jam perjalanan. Matahari pun sudah tidak nampak saat kami sampai di Ruang Jenazah. Gontaian langkah mengantarkan saya untuk melihatnya. Baru saja di siang harinya dia mengecup, kali ini, giliran saya malam harinya untuk mengecupnya. Untuk terakhir kali. Dia tampak tertidur. Wajah yang biasa kupandang saat ia melepas lelah. Yaa, Rabb.. Sungguh Engkau menyayangi hambaMu yang satu ini. .
.
Hujan sesaat bersamaan dengan sorotan matahari mengantarkan raganya menuju peristirahatan terakhir esok harinya. Saya, hanya bisa memeluk buah hati kami dan memandang iringan itu pergi.
Yaa Rabb.. .
.
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar