Jumat, 20 Juli 2018

Saat hasil, gak sesuai ekspektasi

Mulai bulan Januari kemarin, saya mulai aktif lagi di dunia persosialisasian alias bertemu dan berteman dengan orang baru, setelah lebih dari setahun vacuum dan mendekam diri. Momen tersebut didapat karena saya mulai berkuliah lagi. Yeay! 
.
Awalnya, saya perlu waktu untuk beradaptasi lagi dalam hal berkomunikasi dengan orang baru. Maklum, vacuum-nya setahun, tapi rasanya seperti sepuluh tahun. Grogi, kurang percaya diri, dan kebingungan dalam merespon obrolan sehari-hari sehingga mencoba mengetuk pintu masa lalu untuk menemukan diri, yang ceria, easy going, dan mudah bergaul. Ternyata setahun, lumayan bikin terdiaspora juga.
.
Lain dulu lain sekarang. Ikut kuliah saat umur kepala tiga adalah, lebih fokus, lebih serius, lebih ambisius. Beda banget saat jaman dulu yang biasa menggelandang kesana kemari. Apakah dengan kepala tiga lantas membuat pemikiran menjadi serius dan perkuliahan menjadi lebih menggiurkan? Entahlah.
.
I put a lot of efforts to accomplished all my duties. Mengerjakan semua tugas kuliah, kerja kelompok, full presensi, ikut komunitas, hadir seminar, pekerjaan rumah tangga, dan yang utama adalah menjadi IBU. Tapi ternyata, tektok-nya gak semudah dibayangkan. Apalagi, sifat kuliah S1 dan S2 yang cukup timpang. Sekarang, semua berkutat dengan buku tebal, tekstual, dan analisa. Lain jaman dulu, yang cuma mengandalkan otak kanan, sense, dan tangan yang lincah. Culture Shock!
.
Kekuatan multitasking dan manajemen waktu adalah koentji. Bangun tidur, ada to do list rumah tangga yang mesti dikerjakan sebelum berangkat kuliah. Sebut saja nyapu, ngepel, beres-beres dan masak untuk orang rumah. Kalo sempet, ya ke pasar, hunting sayuran sambil me time. Lalu disambung dengan quality time sama bayi yang baru bangun, walaupun cuma beberapa menit. Berangkat kuliah, dan mencoba menuntaskan segalanya di kampus. Jadi, sesampai di rumah, gak sibuk sendiri ngerjain urusan kampus, karena sering terdistraksi dan gak fokus akibat tuntutan perhatian dari Nak Bayi.
.
Segalanya diusahakan berjalan dengan sinkron dan maksimal. Mengerjakan tugas, sambil nyusui anak, biasa. Mengerjakan tugas dengan remote saat anak di opname di rumah sakit seminggu, pernah. Bawa anak saat kuliah karena harus sambil observasi si anak, pernah. Kita berjuang sama-sama. Saat banyak yang mesti dikerjakan, waktu jadi lebih terasa berharga.
.
Hingga suatu hari, hasil kerja keras diumumkan. Ada satu mata kuliah yang nilainya bikin patah hati. Nangis karena nilai kok rasanya lebay ya. Tapi itulah, ujian hidup ada-ada aja. Kita kadang gak tau sisi mana yang bikin patah hati maksimal, walaupun tampak sepele di mata orang lain. Itu karena, orang lain gak tau sejauh apa kerja keras dan perasaan kita dalam melakukan suatu hal. Yang terlihat cuma data dengan angka. Dan itu berlaku di sisi kehidupan yang lain. Uhuk!
.
Apa yang harus dilakukan? L-E-G-O-W-O. Mencerna lagi, dan memahami, bahwa segala hal, kadang gak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada kerikil dan sandungan yang dihadapi, biar apa? Biar kita lebih mawas diri. Gak terbuai dengan ambisi pribadi, yang mungkin sudah menggerogoti diri sendiri.
.
"Ini keajaiban alam. Aku mempercayainya!" - ost. Sailormoon -

Bandung, Juni 2018.

Jumat, 13 Juli 2018

Di Garis Tepi



"Di Garis Tepi"
...
Sejenak jeda.
Menyimak hiruk pikuk bumi.
Betapa tokoh-tokoh utama itu bercanda 
dan saling bersikutan.
Lihat, ada yang serius!
Rupanya esok adalah penentu.
Ah, ekspresi itu!
Hendak kemana arah kedua wajah tersipu.
...
Ah... penghuni garis tepi.
Hanya bisa memandang,
lara.
...
#puisikilat #randomtoughts

Jumat, 06 Juli 2018

Lorong Waktu



Lorong waktu.
.
Seketika aku terlempar pada masa itu.
Lebih dari dasawarsa lalu. 
13 tahun lalu? 
Ah sepertinya lebih. .
.
Sekian pertemuan acak. 
Obrolan tekstual yang sarat mencoba melebur. 
Suasana temaram memilin waktu menjadi petala makna.
.
Apa kabar? 
Baik, pasti baik-baik saja.
.
Senang berkenalan dengan tuan.
.
#randomtoughts #puisikilat

Jumat, 29 Juni 2018

Yang Teringat: Kata terakhir

"mencoba tegak"
foto: dokumentasi pribadi

#sekedarcerita
Baru-baru ini punya bacaan menarik di akun steller-nya @catwomanizer (klik disini). Salah satunya adalah topik “Unforgettable last word.” Membaca tiap halamannya, mau tidak mau membawa saya pada momen-momen terakhir bersama almarhum suami.
.
Tiga hari sebelum kejadian, kami semua berkumpul di rumah. Oh ya, setelah hamil 9 bulan, saya dan suami menjalankan hubungan jarak jauh. Suami bekerja di Samarinda, sedangkan saya mengungsi di kota Balikpapan yang berjarak 3 jam perjalanan. Kami bisa bertemu seminggu sekali saat itu. Begitupun sampai melahirkan dan hingga kejadian, kami bertemu hanya saat akhir minggu. 
.
Dua malam sebelum kejadian, saya tiba-tiba bilang kepada suami, 
Yang (sayang) sini deh, boleh peluk ga?” 
Suami kelihatan heran, terus jawab “Wah, kenapa nih?” 
Gak apa-apa pengen aja. Hehe.” 
Entah kenapa, saya ingin membuat momen tersebut secara tiba-tiba.
Momen 5 menit tersebut, tidak disangka menjadi momen terakhir buat kami.
.
Saya pun sempat bilang pas malam harinya, “Yang (sayang), kayaknya aku ga sanggup deh kalau besarin ayaka sendirian. Kamu kan pengen punya anak hafidzah, kayaknya kamu yang lebih mampu soal ilmunya.”  Walaupun, ternyata harus dibuat sanggup :')
.
Karena waktu berdua kami yang terbatas jarak, dan komunikasi kami saat itu sebatas whatsapp voice, banyak hal yang akhirnya membuat momen-momen bersama terasa sangat singkat. Mungkin hal itu pula yang membuat dia bilang “maaf” saat terakhir pamit kerja untuk terakhir kalinya. Dan juga menjadi saat perjumpaan terakhir semasa hidupnya.
.
“Yang, maafin abang ya…”
“Ayaka, maafin ayah ya…”
.
Itu kata-kata terakhir yang dia ucapkan sambil mengecup kami berdua, sebelum pamit kerja, pamit yang sebenarnya kembali padaNya. Dan mungkin jadi momen yang akan sering teringat dan sebagai pengingat.
.
Kata-kata terakhir kadang jadi cambuk. Gak hanya terpisah karena kematian saja, tapi juga hal lain. Saya juga jadi teringat momen-momen perpisahan lainnya. Kadang, ada kalimat-kalimat yang secara gak sadar terpahat di ingatan. Memahami, apa yang harus kita cerna dari kejadian tersebut dan menjadi lebih terjaga.


Bandung, 29 Juni 2018


Jumat, 11 Mei 2018

Baby Born



#sekedarcerita 
Pernah ngerasain hidup tiba-tiba ke-reset? Saya ngalamin itu hampir 2 tahun lalu. Ketika saya ngerasain di titik nol. Semenjak kejadian itu, saya hilang ritme. Berusaha beradaptasi sekian kali. Beberapa kali jatuh lalu berantakan lalu berusaha merapikan lagi. Berusaha berdiri stabil, tapi goyah lagi. Sampai akhirnya, saya meyakinkan diri, saya harus bisa bertahan lama kali ini. .
.
Saya berubah. Banyak berubah. Perubahan yang ga sepenuhnya saya sadari. Saya sampai bertanya pada sahabat saya @niniest, "kok gw berubah gini ya niest?" Kurang lebih dia bilang, "karena lo ngalamin kejadian besar, dalam waktu yang dekat. Kelahiran dan kematian." .
.
Ketika mengabadikan momen ini, saya berpikir. "Ternyata saya sampai juga di momen ini." Bagi saya, ini adalah pencapaian yang jauh lebih besar mengingat titik reset itu. Belum sempurna memang, jauh. Masih jauh dari sempurna. Beberapa minggu merasa overload, beberapa minggu merasa megap-megap, beberapa minggu kondisi naik turun, tapi saya merasa bersyukur untuk bisa sampai di titik ini. Alhamdulillah wa syukurillah. .
.
Pic: booth @ayaka.living yang baru menetas dari cangkangnya secara perdana. Masih newborn. Welcome ❤

Kamis, 03 Mei 2018

Jembatan Rindu



#sekedarcerita 
Al-Quran ini, dulunya milik alm suami. Yang sering dibawa di dalam tas, atau dibaca di rumah. Dulu, inget omongannya dia, saat saya ada keinginan buat punya Al-Qur'an baru: "Buat apa banyak-banyak punya Al-Quran tapi jarang dibaca." .

Yes.. ini punyanya satu-satunya thok dari jaman dia kuliah. Dia beli di Masjid Salman ITB. 
Al-Qur'an ini juga yang dia gunakan untuk bacaan rutin selama saya hamil hampir setiap harinya. "Ade bayi (ayaka), kita ngaji yuk!" (Sambil usap-usap perut). Dia pernah bilang, ibadah itu yang penting rutin. Gapapa baca sedikit juga, asal dirutinkan setiap hari, katanya.

Terakhir, Al-Qur'an ini saya temukan di dalam tasnya saat kejadian itu. Saat terakhir dia pamit pada kami untuk pergi kerja. Dia kadang bawa ke tempat kerja. Katanya, biar pas istirahat bisa diisi sama ngaji.

Pas hari kejadian itu, Al-Quran ini saya temukan dalam kondisi basah. Alhamdulillah ga sampai rusak. Karena, waktu kejadian, memang saat hujan lebat. Semua barang-barang dia pun basah. .

Setelah kejadian, saya bersikeras untuk membawa serta Al-Quran ini sama saya. Ini Al-Quran satu-satunya yang saya punya sekarang.

Selain Ayaka, salah satu jembatan pengubung saya dengannya adalah Al-Quran ini. Semoga, setiap ayat yang dibaca, bisa jadi amal jariyah untuk pemiliknya. .

Semoga, ditempatkanNya di tempat yang terbaik ya abang... saya cuma sedang rindu.

Jumat, 20 April 2018

Iya, Ibu harus belajar.

Dulu, saat saya mau menikah, Ibu berkata, kenapa dari dulu ibu cukup strick pada saya dan pilihan pasangan saya. Syarat diantaranya adalah : Bageur (baik), Bener (dalam hal agama), Pinter. Harus sepaket. "Karena, suatu saat ibu akan mati. Dan ibu harus cukup yakin dan tenang, kalau nanti, kamu akan baik-baik saja tanpa ibu. (karena ibu, gimana pun kondisinya akan selalu menerima seorang anak)".
.
Akhirnya restu ibu (yang dulunya strick banget) luluh (dengan mudahnya) pada alm suami saya. .
.
Begitulah seorang ibu. Mengikhlaskan saya menikah dengan seorang laki-laki, dengan proses yang alhamdulillah (menurut saya) dimudahkan segalanya oleh Allah SWT. Lalu dua hari setelah menikah, langsung ditinggalkan  beda pulau oleh saya. .
.
Ikhlas.
.
Iya, seorang ibu (menurut saya) diuji keikhlasannya semenjak dia mengandung. Melewati masa 9 bulan dengan banyak rasa. Setelahnya, ada fase melahirkan yang luar biasa juga rasanya. Lalu fase batita, dimana akan ditempeli terus oleh si bayi. Lalu fase balita yang masih harus juga diurusi. Dan jika disadari, suatu hari, si bayi akan bertumbuh menjadi besar. Dan suatu saat akan berjarak. Entah karena kesibukan bekerja, menikah, atau bahkan kematian.
.
Sungguh (harus disadari) bahwa anak itu hanyalah titipan. Bukanlah milik kita. Melainkan dipercayakan serta diamanatkan untuk kita jaga dan urus sesuai dengan ridhoNya. Dan suatu saat akan kembali padaNya. Hanya Allah, Maha pemilik takdir yang tahu, kemana ranting takdir itu bergerak. .
.
Ikhlas.
.
Iya.. suatu hari.. ibu juga harus belajar ikhlas ya, Nak. .
.
(dari sekarang, harus belajar)
.
Bismillaah.

Jumat, 13 April 2018

Yang Terkenang : Kebaikan.


.
Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sama singkong. Hasil panen dari kebun sendiri. Terus inget Mba . Mau engga? Nanti saya anter ke rumah. Mba ada di rumah?"
Dengan suka cita saya sambut tawarannya Bapak tersebut. "Wah! Mau banget, Pak! Hatur nuhun! Jazakallah!"
.
Entah kenapa kebaikan si Bapak tersebut cukup buat saya terharu. Padahal sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Kadang, hal-hal sederhana seperti itulah yang akhirnya bisa menyentuh kalbu.
.
Begitupun saat itu...
.
Banjir ucapan belasungkawa kala itu saya terima. Dari sahabat dekat hingga orang yang baru saya kenal pertama kali. Ada diantaranya bercerita, apa saja pengalaman yang dilalui bersama almarhum suami. .
.
"Saya waktu itu mengundang teman-teman untuk menonton saya tanding sepak bola. Dan hanya almarhum saja yang datang untuk memberikan support." ujar sahabatnya. .
.
Ah, ya. Lagi-lagi tentang kebaikan.
.
Lantas, apa yang akan dikenang oleh orang lain dari diri kita?
.
Foto: Pisang & Singkong hasil panen si Bapak.

Jumat, 06 April 2018

Sedekat urat nadi: Kematian.



Hanya berselang 27 hari setelah kebahagiaan atas nafas baru bernama Ayaka, itu terjadi. Belum kering rasanya luka yang didapat dari proses tersebut, saya dibuat terhempas jauh, tidak menapak bumi. .
.
Qadarullah. Imamku, penentram hatiku, dijemput Sang Pemilik Hidup. Kasih sayangNya terhadap kami, diatas segalanya. Yaa.. Rahmaan.. Yaa.. Rahiim.
.
Sepotong kata maaf, dan kecupan hangat, adalah hal terakhir yang terpatri sebelum ia pergi. Selepas sholat dzuhur, ia pergi menjemput nafkah untuk kami. Pergi yang sebenarnya kembali pada Illahi Rabbi. Yaa Rabb.. sedekat itukah kematian? Baru saja kami bertatap.
.
Hanya berselang 3 jam dari perjumpaan terakhir, kabar itu datang. Kabar yang meruntuhkan pertahanan saya. Kabar yang bukan saya harapkan.
.
Rumah sakit berjarak 3 jam perjalanan. Matahari pun sudah tidak nampak saat kami sampai di Ruang Jenazah. Gontaian langkah mengantarkan saya untuk melihatnya. Baru saja di siang harinya dia mengecup, kali ini, giliran saya malam harinya untuk mengecupnya. Untuk terakhir kali. Dia tampak tertidur. Wajah yang biasa kupandang saat ia melepas lelah. Yaa, Rabb.. Sungguh Engkau menyayangi hambaMu yang satu ini. .
.
Hujan sesaat bersamaan dengan sorotan matahari mengantarkan raganya menuju peristirahatan terakhir esok harinya. Saya, hanya bisa memeluk buah hati kami dan memandang iringan itu pergi.
Yaa Rabb.. .
.
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Jumat, 30 Maret 2018

Nafas baru itu bernama "Ayaka" (part2)


.
Satu hari, satu malam. Bayi belum lahir juga. Sampai akhirnya Dokter X (langganan) selesai dari cutinya dan visit. "Dokteerrr..." saya refleks memanggil. Ada campur haru dan lega. "Gimana.. gimana.." dokter pun senyum merespon panggilan saya. Saya bertanya, kenapa saya masih belum melahirkan. Beliau hanya menjawab tenang, "ya bayinya memang belum mau lahir, Bu. Hehe."
.
Dokter menanyakan pilihan saya, untuk menunggu alami atau dibantu induksi. Kalau saya tidak kuat, Beliau menyarankan untuk induksi. Akhirnya, saya memutuskan untuk induksi pada keesokan harinya, karena saya ingin tidur dulu. Qadarullah, malam itu saya tidak bisa istirahat untuk tidur. Kontraksi semakin kencang terasa. Tapi pembukaan tetap stuck :(
.
Induksi pun dimulai esok harinya pada pukul 11 siang. Masyaa Allaah.. terkadang, saya berpikir untuk menyerah saja. Berkali-kali saya berbicara pada suami, bahwa saya sudah menyerah, tapi dia tetap menguatkan "Ayang jangan ngomong gitu, positif thinking, ayo bisa bisa. Ayang pasti bisa. Bismillaah." .
.
Mual dan lemas. Asupan makanan jadi terbatas. Alhamdulillah suami betul-betul support selama proses itu. How lucky i am. Alhamdulillah :')
.
Induksi berakhir pada jam 9an malam. Qadarullah, pembukaan naik menjadi 4. Saya langsung dialihkan ke ruang bersalin. "Ketubannya dipecahin ya, Bu." Subhanallah, hanya dalam setengah jam, pembukaan sudah hampir lengkap. "Wah! Sudah nyampe 9 nih, Bu." Dokterpun dipanggil untuk persiapan lahiran. Suami memeluk saya sambil berdzikir dan mengingatkan saya untuk selalu atur nafas. .
.
22.30. Tangisan pertama itu terdengar, setelah 2 Hari 2 Malam. 40 minggu 5 hari. Kami berdua terharu, bahagia yang tidak terhingga. Alhamdulillah. Segala Puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
.
Namanya "Ayaka.." artinya "Colorful flower" :)

Jumat, 23 Maret 2018

Nafas baru itu bernama "Ayaka". (part1)


Jum'at siang kala itu adalah jadwal rutin saya untuk cek kandungan. Mengingat kandungan sudah lebih dari 40 minggu, check up menjadi lebih intens pada minggu-minggu terakhir. Qadarullah, saat itu, dokter langganan cuti keluar kota karena ada seminar. Dan, saya akhirnya memilih dokter baru untuk mengecek si jabang bayi. .
.
"Harus dipaksa keluar ini bayinya." ujar si dokter baru. "Ya kalau bisa normal, dibantu sama induksi. Kalo gabisa, ya terpaksa caesar." Lalu, saya langsung diarahkan untuk melakukan CTG selama setengah jam. Yakni, pemeriksaan denyut jantung bayi dengan memakai alat rekam. Apakah kondisinya sehat atau lemah. Apakah memungkinkan normal atau tidak. Mertua yang mengantar saat itu, lumayan agak panik, dan langsung menyuruh saya untuk menelepon suami (alm) untuk segera pulang. Maklum, kala itu kami LDM. Sejak umur kandungan 9 bulan (36 minggu) kami tinggal beda kota, dengan jarak 2-3 jam perjalanan. .
.
"Induksinya nanti aja ya, Dok, habis suami saya pulang. Besok juga gapapa kan?" itulah keputusan saya. "Iya, tapi hasil CTG ini dan surat rujukan induksi cuma berlaku 3 hari ya, saya ga jamin kedepannya kondisinya gimana." Dokter menjelaskan resiko jika melahirkan diatas 40 minggu.
.
Qadarullah, setelah suami sampai di rumah sore harinya, kontraksi mulai terasa. "Wah si bayi gamau dipaksa induksi ya," batin saya. Malam harinya, saya masuk UGD. "Sudah pembukaan 1, Bu. Dilihat dari CTG-nya (sudah tinggi his dan jarak kontraksinya), kemungkinan bayi akan lahir pagi atau siang harinya." kata suster/bidan jaga. Malam itu juga, saya masuk ruang inap untuk observasi ditemani suami.
.
"Ibu lahiran mau dengan dokter siapa? Dokter X (langganan) baru beres cuti sabtu sore. Kalau sebelum itu sudah mau lahir, sama dokter Y (yang tadi siang periksa) gapapa, Bu?" Walau kurang sreg, saya akhirnya pasrah sama pilihan yang ada. "Oke, suster."
.
Esoknya, penantian kelahiran bayi masih tertunda. Walaupun kontraksi terus terasa, tapi pembukaan stuck di 2. "Wah, kayaknya bayinya nungguin dokter X (langganan) ya!" saya cuma bisa senyum.

Ditulis di:
Bandung, 12 Januari 2017

[Equilibrium] Exhibit 181124

Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...