#catatanlondon
2019.
Saat itu musim panas London. Walau begitu, musim panas London bersuhu 9 derajat, udaranya jauh lebih dingin ketimbang suhu Dago yang lagi dingin-dinginnya (lain hal kalau dibandingin sama dinginnya kamuh ke akuh). Kalau mau pergi kemana-mana, tetap harus memakai baju yang berlapis-lapis.
Rasanya belum afdol, kalau pergi ke tempat asing, tidak berjalan-jalan sendirian. Saya senang berjalan-jalan sendirian. Menikmati waktu, sambil membaca peta, petunjuk bus di halteu, bertanya pada orang asing, dan membaca suasana sekitar.
Pagi itu, saya memutuskan untuk pergi ke Abbey Road, sendirian. tempat tinggal saya berada di daerah Selatan London. Tepatnya di Blythe Hill Lane. Menuju Abbey Road, membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit memakai bus menuju daerah Barat Laut London.
Abbey Road, ramai.
Saya memperhatikan orang-orang yang berusaha berpose di zebra cross. memperhatikan bangunan sekeliling, mengamati coretan tembok di pagar Abbey Studio. Lalu terakhir, bus stop: Abbey Road.
.jpeg)
Merasakan Abbey Road, seperti merasakan lagu-lagu The Beatles yang seringkali didengarkan oleh kakak dari playlist komputernya. Atau dari kaset pita milik ibu, yang hampir tiap hari saya dengar saat kecil.

Namun, hati saya saat itu, bersenandung "Black Bird"-nya the Beatles. Lagu yang sering diputar di studio lukis kampus saat saya membantu teman menyelesaikan tugas akhirnya sampai bergadang, lalu tidur di atas loker kampus yang digulingkan, di kavling pojok milik teman diantara kanvas-kanvas dan easel serta cat minyak yang berserakan.
Saat menulis ini, pikiran saya kembali melayang lagi, teringat saat itu, di sebuah restoran dataran tinggi Bandung, saya meminta pemusik memainkan lagu "I Will". "Untuk SAMUDRA", kata pemusik itu sambil membaca secarik kertas berisi tulisanku.
"Who knows how long I've loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to, I will"
Dan SAMUDRA, telah lama lesap.