Dulu, saat saya mau menikah, Ibu berkata, kenapa dari dulu ibu cukup strick pada saya dan pilihan pasangan saya. Syarat diantaranya adalah : Bageur (baik), Bener (dalam hal agama), Pinter. Harus sepaket. "Karena, suatu saat ibu akan mati. Dan ibu harus cukup yakin dan tenang, kalau nanti, kamu akan baik-baik saja tanpa ibu. (karena ibu, gimana pun kondisinya akan selalu menerima seorang anak)".
.
Akhirnya restu ibu (yang dulunya strick banget) luluh (dengan mudahnya) pada alm suami saya. .
.
Begitulah seorang ibu. Mengikhlaskan saya menikah dengan seorang laki-laki, dengan proses yang alhamdulillah (menurut saya) dimudahkan segalanya oleh Allah SWT. Lalu dua hari setelah menikah, langsung ditinggalkan beda pulau oleh saya. .
.
Ikhlas.
.
Iya, seorang ibu (menurut saya) diuji keikhlasannya semenjak dia mengandung. Melewati masa 9 bulan dengan banyak rasa. Setelahnya, ada fase melahirkan yang luar biasa juga rasanya. Lalu fase batita, dimana akan ditempeli terus oleh si bayi. Lalu fase balita yang masih harus juga diurusi. Dan jika disadari, suatu hari, si bayi akan bertumbuh menjadi besar. Dan suatu saat akan berjarak. Entah karena kesibukan bekerja, menikah, atau bahkan kematian.
.
Sungguh (harus disadari) bahwa anak itu hanyalah titipan. Bukanlah milik kita. Melainkan dipercayakan serta diamanatkan untuk kita jaga dan urus sesuai dengan ridhoNya. Dan suatu saat akan kembali padaNya. Hanya Allah, Maha pemilik takdir yang tahu, kemana ranting takdir itu bergerak. .
.
Ikhlas.
.
Iya.. suatu hari.. ibu juga harus belajar ikhlas ya, Nak. .
.
(dari sekarang, harus belajar)
.
Bismillaah.
Jumat, 20 April 2018
Jumat, 13 April 2018
Yang Terkenang : Kebaikan.
.
Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sama singkong. Hasil panen dari kebun sendiri. Terus inget Mba . Mau engga? Nanti saya anter ke rumah. Mba ada di rumah?"
Dengan suka cita saya sambut tawarannya Bapak tersebut. "Wah! Mau banget, Pak! Hatur nuhun! Jazakallah!"
.
Entah kenapa kebaikan si Bapak tersebut cukup buat saya terharu. Padahal sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Kadang, hal-hal sederhana seperti itulah yang akhirnya bisa menyentuh kalbu.
.
Begitupun saat itu...
.
Banjir ucapan belasungkawa kala itu saya terima. Dari sahabat dekat hingga orang yang baru saya kenal pertama kali. Ada diantaranya bercerita, apa saja pengalaman yang dilalui bersama almarhum suami. .
.
"Saya waktu itu mengundang teman-teman untuk menonton saya tanding sepak bola. Dan hanya almarhum saja yang datang untuk memberikan support." ujar sahabatnya. .
.
Ah, ya. Lagi-lagi tentang kebaikan.
.
Lantas, apa yang akan dikenang oleh orang lain dari diri kita?
.
Foto: Pisang & Singkong hasil panen si Bapak.
Jumat, 06 April 2018
Sedekat urat nadi: Kematian.
![]() |
Hanya berselang 27 hari setelah kebahagiaan atas nafas baru bernama Ayaka, itu terjadi. Belum kering rasanya luka yang didapat dari proses tersebut, saya dibuat terhempas jauh, tidak menapak bumi. .
.
Qadarullah. Imamku, penentram hatiku, dijemput Sang Pemilik Hidup. Kasih sayangNya terhadap kami, diatas segalanya. Yaa.. Rahmaan.. Yaa.. Rahiim.
.
Sepotong kata maaf, dan kecupan hangat, adalah hal terakhir yang terpatri sebelum ia pergi. Selepas sholat dzuhur, ia pergi menjemput nafkah untuk kami. Pergi yang sebenarnya kembali pada Illahi Rabbi. Yaa Rabb.. sedekat itukah kematian? Baru saja kami bertatap.
.
Hanya berselang 3 jam dari perjumpaan terakhir, kabar itu datang. Kabar yang meruntuhkan pertahanan saya. Kabar yang bukan saya harapkan.
.
Rumah sakit berjarak 3 jam perjalanan. Matahari pun sudah tidak nampak saat kami sampai di Ruang Jenazah. Gontaian langkah mengantarkan saya untuk melihatnya. Baru saja di siang harinya dia mengecup, kali ini, giliran saya malam harinya untuk mengecupnya. Untuk terakhir kali. Dia tampak tertidur. Wajah yang biasa kupandang saat ia melepas lelah. Yaa, Rabb.. Sungguh Engkau menyayangi hambaMu yang satu ini. .
.
Hujan sesaat bersamaan dengan sorotan matahari mengantarkan raganya menuju peristirahatan terakhir esok harinya. Saya, hanya bisa memeluk buah hati kami dan memandang iringan itu pergi.
Yaa Rabb.. .
.
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.
Langganan:
Komentar (Atom)
[Equilibrium] Exhibit 181124
Ini sudah hari kedua aku meninggalkan negara itu. Di mana satu minggu terakhir turbulensi hidup nampak chaos. Atau sebenarnya, aku sendiri y...
-
. Pagi kemarin, saya dikejutkan dengan sebuah telepon dari penjaga di kantor tempat kerja saya dahulu. "Mba, saya punya pisang sa...
-
Lama sudah aku tak singgah di kota ini. Satu bulan? Dua bulan? Mungkin lebih. Aku tak begitu mengingat soal waktunya. Yang aku ingat...
-
28/06/2023 14:55 WIB Ini sudah periode yang kesekian. Kesekian kalinya pula, saya masih merasakan hal yang sama, berulang padamu. Keputusas...

